Sunday, July 12, 2015

Tradisi Pernikahan Ala Jepang

*Sebenernya sih ini tugas buat kuliah semester sekarang. Supaya gak hilang jadi taroh disini dan kali-kali bermanfaat buat yang minat sama budaya Jepang ^^v*

TRADISI PERNIKAHAN ALA JEPANG
Oleh: Tamara

Abstrak

Manusia dan pernikahan tentu saja sesuatu yang sangat berkaitan. Terutama bagi orang Jepang yang mengutamakan keturunan. Sistem pernikahan di Jepang sempat mengalami berbagai perubahan dan sekarang Jepang menganut sistem patrilineal atau sistem keturunan yang mengatur alur keturunan berdasarkan pihak ayah. Ada beberapa proses yang harus dilakukan sebelum sampai ke tahap pernikahan, seperti omiai (acara perjodohan) dan yuino (acara pertunangan). Walaupun terdengar sederhana, sebenarnya tiap-tiap tahap memiliki fungsi dan maknanya masing-masing.

Kata kunci: Pernikahan, pertunangan, yuino-hin, makanan

Pendahaluan

Saat ini, Jepang adalah salah satu negara adidaya yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap dunia, baik dalam ekonomi, industri, bahkan budaya. Untuk mempertahankan keturunan, tentu saja orang Jepang harus menikah dan memiliki anak. Bagaimanakah tradisi pernikahan ala Jepang? Hal ini sangat menarik untuk dibahas mengingat masyarakat Jepang yang masih mempertahankan budaya tradisional-nya.

Pernikahan adalah suatu proses dimana pria dan wanita mengikrarkan diri mereka sebagai pasangan yang sah dan diakui oleh masyarakat dan agama. Sebagai suatu momen yang sangat sakral, pernikahan biasanya memiliki aturan dan syarat tertentu yang harus dipenuhi agar pada akhirnya pria dan wanita bisa menjadi pasangan suami-istri. Begitu pula di Jepang, ada syarat dan tradisi yang harus dilalui agar pernikahan dapat dianggap sah.

Hal yang unik adalah proses pertunangan di Jepang yang memiliki proses yang mirip seperti dengan adat seserahan di Indonesia. Acara pertunangan itu disebut dengan istilah “Yuino”. Kali ini saya akan membatasi pokok pembahasan pada proses pertunangan ala Jepang atau Yuino.

Sejarah Pernikahan di Jepang

Sistem pernikahan di Jepang terus menerus berubah bersamaan dengan kondisi dan sistem sosial masyarakat. Perubahan penting yang terjadi pada sistem pernikahan di Jepang adalah saat munculnya para “bushi” pada abad ke-14.

Sistem pernikahan Jepang yang awalnya “Muko-iri” (婿入り) atau sistem matrilineal, yaitu mempelai pria tinggal dan menjadi bagian dari keluarga mempelai wanita. Setelah muncul bushi, sistem pernikahan di Jepang berubah menjadi “yome-iri” (嫁入) atau sistem patrilineal, yaitu mempelai wanita tinggal dan menjadi bagian dari keluarga mempelai pria saat sang mempelai wanita telah melahirkan anak atau telah kehilangan kedua orang tuanya.

Pada zaman feodal, pernikahan di Jepang sering digunakan sebagai alat politik dan diplomasi untuk menjaga kedamaian dan persatuan di kalangan penguasa pada masa tersebut. Selain itu, pria dan wanita tidak bisa dengan mudah memilih calon mempelai yang diinginkan. Pada masa tersebut muncul “nakodo”(仲人), orang yang menyiapkan dan mengatur pernikahan untuk kedua belah pihak.

Tahapan Sebelum Pernikahan

a.      Omiai (Acara Perjodohan)
Omiai adalah pertemuan antara seorang pria dan seorang wanita sebagai persiapan menuju perkawinan bila keduanya merasa cocok atau disebut juga sebagai acara perjodohan. Pada umumnya omiai diadakan oleh seorang perantara yaitu nakodo, untuk menyusun acara pertemuan tersebut. Sekarang, nakodo bisa juga berasal dari anggota keluarga atau teman dari orang yang akan mengikuti omiai tersebut. Omiai biasanya diadakan di tempat umum seperti restoran dan lain sebagainya.

Selain omiai, ada pula pernikahan yang berdasarkan cinta atau “ren’ai kekkon”. Ren’ai kekkon adalah pernikahan yang didasari rasa kasih sayang antara pria dan wanita tanpa melalui proses perjodohan atau omiai.

b.      Yuino (Acara Pertunangan)
Yuino adalah upacara tradisional pertukaran hadiah antara kedua calon pengantin yang telah melalui proses omiai. Acara ini juga digunakan untuk pertunangan dan pasangan saling kenal. Sebelum pada hari yuino tunangan akan memberikan kain sabuk atau obi, pakaian atau hakama, dan sejumlah uang pemberian. Barang-barang yang digunakan sebagai hadiah disebut juga “yuino-hin”.

c.       Kekkon-shiki (Upacara Pernikahan)
Upacara pernikahan merupakan salah satu bagian penting dari semua proses yang ada. Upacara pernikahan di Jepang umumnya diadakan di hotel, kuil, dan sebagainya. Untuk tanggal upacara pernikahan biasanya tidak ada cara khusus, tetapi mereka menghindari pertengahan musim panas serta awal dan akhir tahun karena memperhatikan tamu yang akan menghadiri pernikahan tersebut. Umumnya orang Jepang memilih musim semi atau musim gugur untuk mengadakan upacara pernikahan.

Model upacara pernikahan di Jepang terdiri dari : Budha, Kristen, Shinto dan dihadiri para sahabat dan saksi. Prosesi ala Shinto adalah upacara pernikahan yang paling dikenal di Jepang, Tempat pelaksanaannya berada di tempat suci seperti kuil dan upacara pernikahannya dipimpin oleh pendeta Shinto.

Proses Pelaksanaan Yuino

Yuino dilaksanakan pada waktu pagi hari dipilih pagi karena keyakinan mereka bahwa pagi hari membawa keberuntungan dan ini mengikuti kalender tradisional Jepang.
Mempelai pria, mempelai wanita, dan nakodo dikumpulkan di satu tempat yang sama, biasanya di restoran tradisional Jepang atau hotel. Selain proses dibawah, ada pula yang melaksanakan proses yuino pada saat jamuan makan malam dan lain sebagainya.
Proses dari pihak mempelai pria:
  • -         Nakodo pergi ke tempat pihak mempelai pria untuk mengambil yuino-hin.
  • -          Lalu nakodo pergi ke tempat pihak mempelai wanita untuk menyerahkan yuino-hin.
  • -          Nakodo dijamu oleh pihak mempelai wanita.
  • -          Mempelai wanita menitipkan berkas yuino-hin kepada nakodo untuk diberikan kepada mempelai pria.
  • -          Nakodo kembali ke pihak mempelai pria untuk menyerahkan berkas yuino-hin.
  • -          Di tempat pihak mempelai pria, nakodo kembali dijamu.

Proses memberikan balasan yuino-hin dari pihak mempelai wanita:
(Walaupun secara resminya dilakukan pada hari yang berbeda, akhir-akhir ini sering dilaksanakan pada hari yang sama untuk mempersingkat waktu.)
  • -          Nakodo pergi ke tempat pihak mempelai wanita untuk mengambil yuino-hin.
  • -          Selanjutnya, nakodo pergi ke tempat pihak mempelai pria untuk menyerahkan yuino-hin.
  • -          Nakodo dijamu oleh pihak mempelai pria.
  • -          Mempelai pria menitipkan berkas yuino-hin kepada nakodo untuk diberikan kepada mempelai wanita.
  • -          Nakodo kembali ke pihak mempelai wanita untuk menyerahkan berkas yuino-hin.
  • -          Nakodo kembali dijamu oleh pihak mempelai wanita.




Yuino-hin dan Maknanya

Yuino-hin atau barang seserahan tersebut harus memiliki jumlah yang ganjil, yaitu 5,7, atau 9. Angka ganjil dianggap membawa keberuntungan oleh orang Jepang, sedangkan angka genap merupakan kebalikannya, yaitu dianggap dapat membawa petaka.

Berikut adalah barang-barang yang dijadikan yuino-hin beserta maknanya:
  • Mokuroku (目録): Daftar barang yang diberikan saat Yuino
  • Naga-noshi (長熨斗): Kerang abalone yang sering digunakan di Jepang sebagai kerajinan tangan dan melambangkan umur panjang. Biasa diberikan untuk hadiah perayaan.
  • Kinpoudzutsumi (金包包): Tempat untuk menaruh uang yang akan digunakan dalam yuino (Yuino-kin). Uang tersebut digunakan untuk membeli obi mempelai perempuan (goobi-ryou), dan hakama untuk mempelai lelaki (gohakama-ryou)
  • Katsuo-boshi (勝男節): Ikan bonito kering yang melambangkan harapan agar pernikahannya dapat bertahan lama
  • Surume (寿留女): Ikan kering yang melambangkan harapan agar pernikahan tersebut dapat bertahan lama.
  • Konbu (子生婦): Rumput laut kering yang melambangkan kesuburan, dengan harapan pasangan tersebut berbahagia.
  • Tomoshiraga (友白髪):Kumparan benang rami yang melambangkan harapan agar pasangan tersebut dapat terus bersama hingga tua.
  • Suehiro (末広): Kipas lipat yang melambangkan kebahagian dan masa depan yang lebih baik.
  • Yanagi-daru (家内喜多留): tempat penyimpanan sake yang terbuat dari pohon willow. Melambangkan kepatuhan dalam pernikahan.


Kesimpulan

Sistem pernikahan di Jepang awalnya adalah muko-iri atau sistem matrilineal, tetapi pada saat bushi/samurai naik derajatnya, perlahan sistem tersebut berubah menjadi yome-iri atau sistem patrilineal sejak abad ke-14. Pernikahan pada abad tersebut biasa digunakan untuk kepentingan politik dan diplomasi.

Sebelum dapat menjadi suami istri yang sah, ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh calon mempelai, yaitu omiai, yuino, dan kemudian kekkon-shiki atau upacara pernikahan

Omiai adalah acara perjodohan. Biasanya diatur oleh seorang perantara yang disebut “nakodo”. Tugas nakodo adalah untuk mempertemukan kedua orang yang akan ikut omiai. Selain omiai, ada pula pernikahan yang didasari oleh cinta atau “ren’ai kekkon”.

Yuino adalah acara pertukaran hadiah antar calon pengantin dan juga digunakan untuk saling mengenal satu sama lain. Barang-barang yang dijadikan hadiah disebut pula dengan istilah “yuino-hin”. Yuino biasanya dilakukan pada pagi hari di tanggal yang dianggap membawa keberuntungan. Proses yuino dilakukan oleh perantara yang disebut “nakodo”. Inti proses ini adalah untuk bertukar yuino-hin.

Kekkon-shiki merupakan upacara pernikahan di Jepang. Kekkon-shiki biasanya diadakan di hotel maupun tempat suci seperti kuil dan sebagainya. Orang Jepang biasanya mengadakan kekkon-shiki pada musim semi dan musim gugur.

Yuino-hin harus berjumlah ganjil karena dianggap membawa keberuntungan. Jumlah yang disarankan adalah 5, 7, atau 9 buah. Setiap barang yang terdapat dalam yuino-hin memiliki harapan dan makna yang baik untuk kedua calon pengantin.

Daftar Pustaka

https://ja.wikipedia.org/wiki/%E7%B5%90%E7%B4%8D Diakses pada 26 Juni 2015 16:14