Wednesday, June 22, 2016

Back Number - Boku no Namae Wo

It's been awhile since the last time I translate song so I don't know if it's good or not. I've got my bachelor degree after many long and tiring nights and days I spend to write and fix things.
As always, thank you for visiting. I hope I can write more things soon if I'm not distracted with games and my watch list.
Well I love this song since I first downloaded it. The other two song is good too if you've heard them. I hope you enjoy this song as much as I do. This is me doing the Indonesian translation, enjoy. :)


Thursday, January 14, 2016

.Hack New World 「ニューワールド」Tutorial - Creating Character





Hey-ho!

I know it's been a long long time since I last wrote a new post here. Well real world attacked me real hard now. So I kinda happy to be back for a bit.

Well today I'll write about the latest game from .Hack, it's called "New World" or 「ニューワールド」.  Unfortunately, it's Japan only for now (or maybe forever). So if you want to play but you are not in Japan region, you have to download an application called "qooapp", and download the game from there. And yes it's in Japanese.

DOWNLOAD LINK -------

Tuesday, August 4, 2015

[Resto Review] Curry House - CoCo Ichibanya



Halo~

Ini post pertama setelah beberapa minggu sibuk sampe gak sempet ngeblog. Nah kali ini mo ngereview restoran nih. Namanya CoCo Ichibanya. Yang kemaren dikunjungin sih kebeneran cabang yang di Mall Summarecon Bekasi. Tempat ini menyajikan kare ala Jepang dengan berbagai topping yang bisa dipilih mulai dari sayuran sampai ayam dan temen-temennya. Untuk range harga mulai dari Rp 20.000an untuk salad, dan untuk kare-nya sekitar Rp 50.000 - Rp 80.000 belum termasuk minum.

Saat itu saya coba pesen yang lagi promo, sausage and creamed croquette curry. Promonya itu harga kurang lebih Rp 50.000 udah dapet minum es teh manis. Dan saat makanannya dateng, jeng jeng.. Agak beda dikit ama yang di gambarnya. Kalo di gambar, sosisnya keliatan lebih gede gitu. Tapi pas nyampe di meja, kayaknya sih sosis sebiji dibagi dua. Terus kroketnya kecil tapi rasanya enak banget. Untung rasanya enak. Dan kuah kare-nya keliatan banyak banget dibanding ama topping juga nasinya.

Agak kecewa sih sebenernya, untuk harga yang cukup mahal sekitar Rp 50.000, size-nya kecil banget. Berharapnya dapet topping yang lebih banyak dan lebih puas. Untung kecewanya ketutup sama rasa kroketnya yang enak.

Tapi yah untuk ukuran kare dan toppingnya yang sedikit, harga segitu menurut saya agak overpriced deh. Kurang cocok sama kantong mahasiswa terutama anak kosan (saat kesini kebeneran baru gajian jadi ya gitudeh~). Untuk yang sedang berkantong tipis, tempat ini kurang disarankan karena harganya lumayan mahal. Tapi pengen sih nyobain menu lain, kalo ada rejeki turun dari langit.

Mungkin kalo menu lain yang lagi gak promo, jumlah toppingnya sesuai sama yang di gambar. Who knows?  Untuk pelayanannya sih cukup bagus, mereka berusaha melayani dengan ungkapan-ungkapan bahasa Jepang. Walaupun nada-nya aneh tapi dimaklumi deh, kan pegawainya gak belajar bahasa Jepang.

Sekian review kali ini. Sebenernya sih dalam beberapa minggu ini banyak banget jajan di tempat yang bagus buat di review. Tapi karena fotonya gak ada jadi lain kali aja ya. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca post ini ^^

See you on the next post~ oWo

Sunday, July 12, 2015

Tradisi Pernikahan Ala Jepang

*Sebenernya sih ini tugas buat kuliah semester sekarang. Supaya gak hilang jadi taroh disini dan kali-kali bermanfaat buat yang minat sama budaya Jepang ^^v*

TRADISI PERNIKAHAN ALA JEPANG
Oleh: Tamara

Abstrak

Manusia dan pernikahan tentu saja sesuatu yang sangat berkaitan. Terutama bagi orang Jepang yang mengutamakan keturunan. Sistem pernikahan di Jepang sempat mengalami berbagai perubahan dan sekarang Jepang menganut sistem patrilineal atau sistem keturunan yang mengatur alur keturunan berdasarkan pihak ayah. Ada beberapa proses yang harus dilakukan sebelum sampai ke tahap pernikahan, seperti omiai (acara perjodohan) dan yuino (acara pertunangan). Walaupun terdengar sederhana, sebenarnya tiap-tiap tahap memiliki fungsi dan maknanya masing-masing.

Kata kunci: Pernikahan, pertunangan, yuino-hin, makanan

Pendahaluan

Saat ini, Jepang adalah salah satu negara adidaya yang memiliki pengaruh sangat besar terhadap dunia, baik dalam ekonomi, industri, bahkan budaya. Untuk mempertahankan keturunan, tentu saja orang Jepang harus menikah dan memiliki anak. Bagaimanakah tradisi pernikahan ala Jepang? Hal ini sangat menarik untuk dibahas mengingat masyarakat Jepang yang masih mempertahankan budaya tradisional-nya.

Pernikahan adalah suatu proses dimana pria dan wanita mengikrarkan diri mereka sebagai pasangan yang sah dan diakui oleh masyarakat dan agama. Sebagai suatu momen yang sangat sakral, pernikahan biasanya memiliki aturan dan syarat tertentu yang harus dipenuhi agar pada akhirnya pria dan wanita bisa menjadi pasangan suami-istri. Begitu pula di Jepang, ada syarat dan tradisi yang harus dilalui agar pernikahan dapat dianggap sah.

Hal yang unik adalah proses pertunangan di Jepang yang memiliki proses yang mirip seperti dengan adat seserahan di Indonesia. Acara pertunangan itu disebut dengan istilah “Yuino”. Kali ini saya akan membatasi pokok pembahasan pada proses pertunangan ala Jepang atau Yuino.

Sejarah Pernikahan di Jepang

Sistem pernikahan di Jepang terus menerus berubah bersamaan dengan kondisi dan sistem sosial masyarakat. Perubahan penting yang terjadi pada sistem pernikahan di Jepang adalah saat munculnya para “bushi” pada abad ke-14.

Sistem pernikahan Jepang yang awalnya “Muko-iri” (婿入り) atau sistem matrilineal, yaitu mempelai pria tinggal dan menjadi bagian dari keluarga mempelai wanita. Setelah muncul bushi, sistem pernikahan di Jepang berubah menjadi “yome-iri” (嫁入) atau sistem patrilineal, yaitu mempelai wanita tinggal dan menjadi bagian dari keluarga mempelai pria saat sang mempelai wanita telah melahirkan anak atau telah kehilangan kedua orang tuanya.

Pada zaman feodal, pernikahan di Jepang sering digunakan sebagai alat politik dan diplomasi untuk menjaga kedamaian dan persatuan di kalangan penguasa pada masa tersebut. Selain itu, pria dan wanita tidak bisa dengan mudah memilih calon mempelai yang diinginkan. Pada masa tersebut muncul “nakodo”(仲人), orang yang menyiapkan dan mengatur pernikahan untuk kedua belah pihak.

Tahapan Sebelum Pernikahan

a.      Omiai (Acara Perjodohan)
Omiai adalah pertemuan antara seorang pria dan seorang wanita sebagai persiapan menuju perkawinan bila keduanya merasa cocok atau disebut juga sebagai acara perjodohan. Pada umumnya omiai diadakan oleh seorang perantara yaitu nakodo, untuk menyusun acara pertemuan tersebut. Sekarang, nakodo bisa juga berasal dari anggota keluarga atau teman dari orang yang akan mengikuti omiai tersebut. Omiai biasanya diadakan di tempat umum seperti restoran dan lain sebagainya.

Selain omiai, ada pula pernikahan yang berdasarkan cinta atau “ren’ai kekkon”. Ren’ai kekkon adalah pernikahan yang didasari rasa kasih sayang antara pria dan wanita tanpa melalui proses perjodohan atau omiai.

b.      Yuino (Acara Pertunangan)
Yuino adalah upacara tradisional pertukaran hadiah antara kedua calon pengantin yang telah melalui proses omiai. Acara ini juga digunakan untuk pertunangan dan pasangan saling kenal. Sebelum pada hari yuino tunangan akan memberikan kain sabuk atau obi, pakaian atau hakama, dan sejumlah uang pemberian. Barang-barang yang digunakan sebagai hadiah disebut juga “yuino-hin”.

c.       Kekkon-shiki (Upacara Pernikahan)
Upacara pernikahan merupakan salah satu bagian penting dari semua proses yang ada. Upacara pernikahan di Jepang umumnya diadakan di hotel, kuil, dan sebagainya. Untuk tanggal upacara pernikahan biasanya tidak ada cara khusus, tetapi mereka menghindari pertengahan musim panas serta awal dan akhir tahun karena memperhatikan tamu yang akan menghadiri pernikahan tersebut. Umumnya orang Jepang memilih musim semi atau musim gugur untuk mengadakan upacara pernikahan.

Model upacara pernikahan di Jepang terdiri dari : Budha, Kristen, Shinto dan dihadiri para sahabat dan saksi. Prosesi ala Shinto adalah upacara pernikahan yang paling dikenal di Jepang, Tempat pelaksanaannya berada di tempat suci seperti kuil dan upacara pernikahannya dipimpin oleh pendeta Shinto.

Proses Pelaksanaan Yuino

Yuino dilaksanakan pada waktu pagi hari dipilih pagi karena keyakinan mereka bahwa pagi hari membawa keberuntungan dan ini mengikuti kalender tradisional Jepang.
Mempelai pria, mempelai wanita, dan nakodo dikumpulkan di satu tempat yang sama, biasanya di restoran tradisional Jepang atau hotel. Selain proses dibawah, ada pula yang melaksanakan proses yuino pada saat jamuan makan malam dan lain sebagainya.
Proses dari pihak mempelai pria:
  • -         Nakodo pergi ke tempat pihak mempelai pria untuk mengambil yuino-hin.
  • -          Lalu nakodo pergi ke tempat pihak mempelai wanita untuk menyerahkan yuino-hin.
  • -          Nakodo dijamu oleh pihak mempelai wanita.
  • -          Mempelai wanita menitipkan berkas yuino-hin kepada nakodo untuk diberikan kepada mempelai pria.
  • -          Nakodo kembali ke pihak mempelai pria untuk menyerahkan berkas yuino-hin.
  • -          Di tempat pihak mempelai pria, nakodo kembali dijamu.

Proses memberikan balasan yuino-hin dari pihak mempelai wanita:
(Walaupun secara resminya dilakukan pada hari yang berbeda, akhir-akhir ini sering dilaksanakan pada hari yang sama untuk mempersingkat waktu.)
  • -          Nakodo pergi ke tempat pihak mempelai wanita untuk mengambil yuino-hin.
  • -          Selanjutnya, nakodo pergi ke tempat pihak mempelai pria untuk menyerahkan yuino-hin.
  • -          Nakodo dijamu oleh pihak mempelai pria.
  • -          Mempelai pria menitipkan berkas yuino-hin kepada nakodo untuk diberikan kepada mempelai wanita.
  • -          Nakodo kembali ke pihak mempelai wanita untuk menyerahkan berkas yuino-hin.
  • -          Nakodo kembali dijamu oleh pihak mempelai wanita.




Yuino-hin dan Maknanya

Yuino-hin atau barang seserahan tersebut harus memiliki jumlah yang ganjil, yaitu 5,7, atau 9. Angka ganjil dianggap membawa keberuntungan oleh orang Jepang, sedangkan angka genap merupakan kebalikannya, yaitu dianggap dapat membawa petaka.

Berikut adalah barang-barang yang dijadikan yuino-hin beserta maknanya:
  • Mokuroku (目録): Daftar barang yang diberikan saat Yuino
  • Naga-noshi (長熨斗): Kerang abalone yang sering digunakan di Jepang sebagai kerajinan tangan dan melambangkan umur panjang. Biasa diberikan untuk hadiah perayaan.
  • Kinpoudzutsumi (金包包): Tempat untuk menaruh uang yang akan digunakan dalam yuino (Yuino-kin). Uang tersebut digunakan untuk membeli obi mempelai perempuan (goobi-ryou), dan hakama untuk mempelai lelaki (gohakama-ryou)
  • Katsuo-boshi (勝男節): Ikan bonito kering yang melambangkan harapan agar pernikahannya dapat bertahan lama
  • Surume (寿留女): Ikan kering yang melambangkan harapan agar pernikahan tersebut dapat bertahan lama.
  • Konbu (子生婦): Rumput laut kering yang melambangkan kesuburan, dengan harapan pasangan tersebut berbahagia.
  • Tomoshiraga (友白髪):Kumparan benang rami yang melambangkan harapan agar pasangan tersebut dapat terus bersama hingga tua.
  • Suehiro (末広): Kipas lipat yang melambangkan kebahagian dan masa depan yang lebih baik.
  • Yanagi-daru (家内喜多留): tempat penyimpanan sake yang terbuat dari pohon willow. Melambangkan kepatuhan dalam pernikahan.


Kesimpulan

Sistem pernikahan di Jepang awalnya adalah muko-iri atau sistem matrilineal, tetapi pada saat bushi/samurai naik derajatnya, perlahan sistem tersebut berubah menjadi yome-iri atau sistem patrilineal sejak abad ke-14. Pernikahan pada abad tersebut biasa digunakan untuk kepentingan politik dan diplomasi.

Sebelum dapat menjadi suami istri yang sah, ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh calon mempelai, yaitu omiai, yuino, dan kemudian kekkon-shiki atau upacara pernikahan

Omiai adalah acara perjodohan. Biasanya diatur oleh seorang perantara yang disebut “nakodo”. Tugas nakodo adalah untuk mempertemukan kedua orang yang akan ikut omiai. Selain omiai, ada pula pernikahan yang didasari oleh cinta atau “ren’ai kekkon”.

Yuino adalah acara pertukaran hadiah antar calon pengantin dan juga digunakan untuk saling mengenal satu sama lain. Barang-barang yang dijadikan hadiah disebut pula dengan istilah “yuino-hin”. Yuino biasanya dilakukan pada pagi hari di tanggal yang dianggap membawa keberuntungan. Proses yuino dilakukan oleh perantara yang disebut “nakodo”. Inti proses ini adalah untuk bertukar yuino-hin.

Kekkon-shiki merupakan upacara pernikahan di Jepang. Kekkon-shiki biasanya diadakan di hotel maupun tempat suci seperti kuil dan sebagainya. Orang Jepang biasanya mengadakan kekkon-shiki pada musim semi dan musim gugur.

Yuino-hin harus berjumlah ganjil karena dianggap membawa keberuntungan. Jumlah yang disarankan adalah 5, 7, atau 9 buah. Setiap barang yang terdapat dalam yuino-hin memiliki harapan dan makna yang baik untuk kedua calon pengantin.

Daftar Pustaka

https://ja.wikipedia.org/wiki/%E7%B5%90%E7%B4%8D Diakses pada 26 Juni 2015 16:14